Total Tayangan Laman

Selasa, 22 November 2011

Laporan Praktikum Kadar C- Organik


fapeRTA.jpgLAPORAN PRAKTIKUM DASAR – DASAR ILMU TANAH
AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2 0 1 1
 

MENGUKUR KADAR C-ORGANIK DALAM TANAH

NAMA           : VOLSKY PINTUBATU
NIM                : D1A010061
I.PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.
            Kesuburan tanah sangat bergantung pada kandungan organik dalam tanah. Sehingga ukuran kesuburan tanah dapat diukur melalui kadar organik dalam tanah atau dalam ilmu tentang tanah disebut juga dengan sebutan kadar C-Organik.
            Di kalangan para petani, pemahaman tentang kandungan organik ataupun C-organik kurang dipahami. Namun dalam dunia pertanian hal tersebut dapat dikatakan sebagia salah satu faktor penting dalam mempengaruhi hasil produksi. Oleh karena itu perlu melakukan pengukuran atau pengamatan tentang kadar C-organik dalam tanah agar mengetahui tindakan apa selanjutnya yang akan di buat untuk kesuburan tanah tersebut yang tujuann utamnya adalah meningkatkan hasil produksi.
1.2 Tujuan
            Agar mengetahui kesuburan tanah dan kadar kandungan C – Organik dalam tanah.     
II. TIN JAUAN PUSTAKA
                Bahan organik tanah berpengaruh terhadap sifat-sifat kimia, fisik, maupun biologi tanah. Fungsi bahan organik di dalam tanah sangat banyak, baik terhadap sifat fisik, kimia maupun biologi tanah, antara lain terhadap ketersediaan hara. Bahan organik secara langsung merupakan sumber hara N, P, S, unsur mikro maupun unsur hara esensial lainnya. Secara tidak langsung bahan organik membantu menyediakan unsur hara N melalui fiksasi N2 dengan cara menyediakan energi bagi bakteri penambat N2, membebaskan fosfat yang difiksasi secara kimiawi maupun biologi dan menyebabkan pengkhelatan unsur mikro sehingga tidak mudah hilang dari zona perakaran. Membentuk agregat tanah yang lebih baik dan memantapkan agregat yang telah terbentuk sehingga aerasi, permeabilitas dan infiltrasi menjadi lebih baik. Akibatnya adalah daya tahan tanah terhadap erosi akan meningkat. Meningkatkan retensi air yang dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman. Meningkatkan retensi unsur hara melalui peningkatan muatan di dalam tanah. Mengimmobilisasi senyawa antropogenik maupun logam berat yang masuk kedalam tanah. Meningkatkan kapasitas sangga tanah. Meningkatkan suhu tanah. Mensuplai energi bagi organisme tanah. Meningkatkan organisme saprofit dan menekan organisme parasit bagitanaman. Selain memiliki dampak positif, penggunaan bahan organik dapat pula memberikan dampak yang merugikan. Salah satu dampak negatif yang dapat muncul akibat dari penggunaan bahan organik yang berasal dari sampah kota adalah meningkatnya logam berat yang dapat diasimilasi dan diserap tanaman, meningkatkan salinitas, kontaminasi dengan senyawa organik seperti poli khlorat bifenil, fenol, hidrocarburate polisiklik aromatic, dan asam-asam organik (propionic dan butirik).
            Untuk mencari kadar C- Organik dalam tanah maka dapat digunakan formula :


 



 


III. METODE PRAKTIKUM
3.1. Tempat dan waktu
            Dalam praktikum ini Pengambilan sampel tanah dilaksanakan pada tanggal 19 Oktober 2011, tapatnya Hari Selasa pukul 08.00 sampai dengan 09.50 di Lahan Percobaaan, Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Dan melakukan pengukuran serta pengamatan di Lab. Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jambi pada tanggal 2 November 2011 Pukul 08.00 sampai dengan selesai.
3.2. Bahan dan Alat
1.      Cangkul
2.      Plastik
3.      Parang
4.      Timbangan
3.3   Cara Kerja
-          Menimbang sampel tanah sebanayak 0.1 gram dan masukkan kedalam labu erlenmayer.
-          Menambahkan 10 Ml K2Cr­2O7 1 N sambil di kocok.
-          Menambahkan H2SO4 pekat 4 Ml, lalu di putar pada alas selama 1 menit dan mendiamkan 20 – 30 Menit
-          Menambahkan 40 Ml air suling dan 2 Ml H3PO4 85 % , 0.2 gram NaF, dan 6 tetes indikator Difenilalanin.
-          Mentitrasi segera dengan 0.5 N Fe2SO4 1 N.
-          Mengulang cara kerja dari 1-5 pada waktu yang sama untuk mendapatkan data belangko.   




IV. HASIL dan PEMBAHASAN.
4.1 Hasil
4.2  Pembahasan
Pengamatan diatas yang dianggap berhasil hanyalah pada sampel tanah nomor 1 dan 2, alsannya sampel tanah nomor 3, 4 , 5 mengalami kesalahan dalam hal jumlah ferosulfat yang digunakan. Sehigga hasil dari titrasi tanah lebih besar dibanding hasil blangko. Hal ini terjadi karena kurang ketelitian terhadap pelaksanaan titrasi.
Dari hasil pengamatan diatas sangat berhubungan sekali dan sangat mendukung terhadap hasil praktikum sebelumnya, yaitu kadar Al dd, Hdd, pH tanah. Karena dari sampel tanah diatas didapat kadar C-Organik yang sedikit. Sehingga mempengaruhi kadar Aldd dan pH tanah. Jika C-Organik sedikit maka kadar Aldd pada tanah semakin tinggi. Karena fungsi dari C-Organik dalam tanah mengikat dan melapisi Al. sehinngaa Al yang terlepas dari dalam tanah kecil. Sehingga pada saat melakukan pengukuran, Aldd hanya sedikit yang dapat ditukar.
Hubungan kadar C-Organik terhadap pH adalah, semakin tinggi kadar C-Organik dalam tanah maka pH tanah akan mampu mencapai netral, sehingga meningkatkan kesuburan.
Jadi Sampel tanah diatas dapat dikatakan tanah yang masam karena kadar organik tanah tersebut sangat sedikit. Dan dapat dikatakan kurang subur. 
Untuk menangani hal tersebut kita dapat melakukan pengomposan agar menambah kadar bahan organik dalam tanah tersebut. Cara pengomposan dapat dengan menambahkan sisa tanaman yang sudah membusuk atau dengan menambahkan sisa kotoran hewan.
 V. KESIMPULAN
            Semakin banyak kadar organik dalam tanah maka struktur tanah tersebut dapat dikatakan baik. Kadar organik sangat mempengaruhi kadar Hdd, Aldd, Serta pH pada tanah.
            Pada tanah ultisol kandungan tanah cendrung bersifat masam dan keras. Hal ini disebabkan kandungan organiknnya yang sedikit.



DAFTAR PUSTAKA
Sarwono, 2010. Ilmu tanah.akademika Pressindo, Jakarta 
Haryono dkk,2009.  Kandungan c-organik dan n-total pada seresah dan tanah pada 3 tipe fisiognomi (Studi Kasus di Wanagama I, Gunung Kidul, DIY). Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. 9 No. 1 (2009) p: 49-57.

1 komentar: